TOUR MERDEKA SISWA SLB KARNNAMANOHARA

Agustus 28, 2008 oleh karnnamanohara

Belajar bagi anak semua aktivitas adalah belajar.  Naik trans Jogja juga belajar. Membeli karcis juga belajar. Masuk halte bus juga belajar.

Pagi itu kira-kira pukul 09.00 siswa manohara sebanyak 87 orang berbaris menyebrangi jalan ringroud utara. Ada pak polisi 2 orang yang membantu.

Wajah anak-anak yang terang bahagia tertib menyebrang, lalu menyusuri tepi jalan saling bergandengan tangan menuju ke terminal condongcatur.

Mereka akan membeli karcis trans jogja. Merka akan mencoba naik bus tanpa bapak dan ibu. Mereka akan berpisah dengan teman-temannya, karena berbeda jurusan.

Ada orang awam melirik dan bertanya ,” Sekolah Karnnamanohara lain ya Pak dengan SLB-SLB lain.” Saya penasaran dan balik bertanya pada orang itu,” apanya yang lain, Mas ?”   “Di sini guru-gurunya mau repot-repot bawa anak-anak jalan-jalan segala, sementara saya melihat di SLB lain tak ada guru yang mau repot.”  Saya tak menjawab, hanya menghela nafas dan memanjatkan doa, semoga kami  masih diberikan hati nurani untuk mencintai anak-anak.

Kira-kira pukul 11.30 – 12.00 satu persatu rombongan datang. Dengan muka kelelahan mereka masih semangat ingin menceritakan perjalannya.

Mereka sudah belajar, mereka akan memiliki kekayaan ini. Semoga.

Hastu dari SLB B Karnnamanohara yang direkomendasi ikut inklusi

Agustus 28, 2008 oleh karnnamanohara

Hastu Wijayastri kelas 5 di SLB B Karnnamanohara. Tahun ini (2008) oleh sekolah direkomendasikan ikut dalam program inklusi di SDN I Gejayan.

Kalau dibilang siap sih masih rada jauh, karena untuk anak tunarungu masih sangat riskan dalam kekayaan bahasanya. Untuk Hastu dalam perkembangan membaca pemahaman sudah baik, namun belum sampai tahap purna bahasa. Apa sih maksudnya purna bahasa ? ya… tahap penguasaan bahasa yang sangat mandiri. Karena bahasa kan penuh makna dan sangat fleksibel serta elastik dalam penerapannya. Untuk sampai di tahap itu memerlukan proses deduktif, bukan induktif yang cenderung droping.

Untuk memberikan dukungan kepada Hastu, sekolah masih mengharuskan Hastu sepulang dari sekolah masuk ke karnnamanohara untuk memberikan tambahan, termasuk belajar bahasa inggris, jawa dan bahasa Indonesia.

Ada sih anak-anak lain dengan inisiatif orangtuanya masuk ke program inklusi (roza, lintang, dewi, nana), meskipun anak-anak itu baru bisa membuka mata. Tapi tak apalah resiko kan bukan tanggung jawab sopir, He…he… Kalo boleh saya mengistilahkan… Mata orang yang berpuasa sangat lapar dibanding dengan mulutnya. Tahu kan ?

Pengelolaan sekolah Inklusi di Yogyakarta Meragukan

Agustus 28, 2008 oleh karnnamanohara

Rabu 27 Agustus 2008 diadakan sosialisasi bantuan opeasional sekolah bagi SLB swasta, Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi (SPPI) dan para guru pembimbing khusus (GPK).

Acara diawali dengan sambutan pembukaan dari bapak Drs. H. Buchori selaku kepala seksi Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan DIY selaku bapak pembina dari SLB dan SPPI di Yogyakarta.  Kata yang menarik dari beliau adalah berterima kasihnya kepada para penyelenggara pendidikan inklusi yang telah berpartisipasi menerima anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah mereka. Saat ini ada 120 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi dan baru 71 satu yang telah terdaftar. Diantara yang yang terdaftar pun pelayanannya dapat dikatakan kurang. Sehingga diperlukan satu sistem pembinaan.

Usai pak Buchori dilanjutkan dengan sosialisasi “bos” diantaranya ada tanya jawab antara peserta. Ada beberapa penanya yang rata-rata dari SD penyelenggara Pendidikan Inklusi. Pertanyaan dari mereka ada yang sangat menarik, yaitu dari SD Negeri di Jambidan, Bantul. Tahun ini mereka rada kewalahan dengan adanya beberapa murid berkebutuhan khusus masuk ke sekolah tersebut. Yang menyebabkan kewalahan adalah guru pembimbing khususnya, karena selain hanya satu orang untuk melayani 30 anak yang mempunyai kecacatan tunagrahita dan tunarungu wicara, juga dengan keterbatasan waktu kunjungan yang hanya 2 hari dalam satu minggu.

Hati saya selaku orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan khusus sangat khawatir dengan keadaan demikian, terlebih saat ini memang para orang tua yang memiliki anak cacat ingin anak-anaknya masuk di sekolah inklusi yang menurut mereka keadaan sekolah inklusi jauh dapat memberikan bekal yang lebih baik ketimbang di SLB.

Latarbelakangnya orang tua beragam memang. Ada yang karena ingin menghapus label ke-SLB-annya, dan ada juga yang memandang inklusi lebih memberikan harapan. Tapi….. bagaimana dengan keadaan di dalam ???

Memaksimalkan potensi anak tunarungu dengan memilih Sekolah Tunarungu/ SLB-B

Agustus 25, 2008 oleh karnnamanohara

Saat ini bagi orang tua yang memiliki anak tunarungu dapat memilih sekolah lebih leluasa. Lain dengan masa sebelum tahun 2007 atau sebelum pemerintah meluncurkan program inklusi bagi penyandang cacat (tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, autis dan lain sebagainya).  Sekolah-sekolah bukan SLB atau sekolah reguler seperti SD, SMP dan SMA umum dengan label inklusi diperkenankan menerima anak-anak penyandang cacact tersebut. Dasarnya apa lagi kalau bukan atas nama “HAM”. Kesempatan ini juga disambut oleh beberapa sekolah umum yang kurang populer atau kurang diminati untuk membuka kelas inklusi, atau tidak sedikit juga yang dilatarbelakangi dengan sekedar mencari keuntungan materi semata. Karena dari segi pengetahuan dan pengelolaan sekolah yang berlabelkan inklusi bagi penyandang tunarungu khususnya dalam kegiatan pembelajaran pada kenyataannya sangat kurang siap.

Bagi segelintir orang tua yang dahulu merasa pilu dan malu menyekolahkan anaknya di SLB, program ini merupakan obat pelipur hati, setidaknya anak mereka yang seharusnya dilabelkan SLB saat ini sudah berada di sekolah umum yang berbaur dengan anak-anak non kecacatan. Rasa senang tentunya datang, beban di kepala mulai ringan ”bagi orang tua tentunya” karena yang mengerti “HAM” dan cenderung punya perasaan itu hanya para orang tua. Bagaimana dengan proses belajar anak-anak mereka di dalam kelas ? Inilah masalah inti yang kurang tercermati, dan bahkan atas nama “HAM” dan mengubur rasa malu itulah anak-anak mereka dibakar dalam proses yang bukan miliknya dan dunianya. Betulkah ?

Bagi anak tunarungu kebanyakan berpotensi memiliki kecerdasan rata-rata, hanya karena akibat ketunarunguan itu sehingga potensi itu menjadi terhambat. Kita semua setuju kecerdasan itu tidak berkembang sendiri, walaupun kita juga tidak tahu secara persis kerja otak kita dalam menyerap, menyimpan dan memakainya saat diperlukan. Tapi kita tahu perkembangan otak itu perlu rangsangan, atau perlu stimulus, dan cara memakai kecerdasan itu juga perlu media.

Pada manusia stimulus itu lewat telinga, mata dan rasa. Stimulus yang melalui telinga akan dimaknai oleh otak sebesar 65 %, sedangkan stimulus mata dan rasa dimaknai hanya 35 %. Sekarang bagaimana dengan anak tunarungu ? Sudah barang tentu start (awalan) mereka sudah memiliki hambatan dalam menerima stimulus yang bakal diolah menjadi kecerdasannya itu berkurang sebesar 65% dan mereka itu hanya dengan 35% saja menyerap dan mengolah informasi (itu pun jika “mata dan konsentrasi” anak cukup baik). Jika tidak, mungkin kurang dari itu semua.  Tidak cukup sampai di situ. Informasi yang diterima mata juga bentuknya macam-macam. Bisa berbentuk lambang tulisan, gambar, atau warna. Namun semuanya sama yaitu memerlukan pemaknaan. Karena segala sesuatu perlu proses pemaknaan itulah yang tidak akan didapat di sekolah selain di SLB khusus tunarungu. Cukup mengkhawatirkan bukan ?. Bagaima mungkin start (awalan) anak tunarungu yang berbeda dengan anak-anaknormal  (yang tidak kekurangan) tiba-tiba mereka harus berada dalam satu wadah pacuan (kelas, sarana, media) yang sama tanpa beda? Betapa tersiksanya mereka, anak-anak tercinta yang semestinya dimuliakan karena mereka memang tidak harus sama layanannya dengan anak-anak lainnya. Mereka dipaksa “kan” untuk satu biduk mengarungi lautan ilmu dengan terpincang-pincang, dengan kebengongan  yang tiada tara, dan dengan perasaan tertekan yang tak mampu mereka utarakan karena mereka miskin bahasa… 

Mengapa orang tua cenderung memilih sekolah inklusi ?  jawabannya hanya satu. Mereka tidak mau menerima realita yang ada. Mereka cenderung meilhat keinginan yang besar tanpa harus bersusah payah memproses anaknya menjadi anak-anaknya secara utuh. Pikiran mereka tidak berubah dari keinginan menjadi kenyataan. Pikiran mereka bila berada di SLB adalah jalur lambat, mereka segera ingin berpindah ke jalur cepat. Mereka seolah-olah memiliki tujuan bagi anak-anaknya, padahal sebenarnya telah mengacaukan hidup fisik dan psikis anak-anaknya dengan pikiran mereka yang sangat tidak realistik. Mengapa ????????????????????????

Bila bapa/ ibu tidak puas dengan tulisan ini, silakan komentar atau menghubungi langsung ke:

www.karnnamanohara@yahoo.com, tlp. 0274-7471326/ Hp. 087838228680 dengan Cp. Tantan Rustandi.

“Tunarungu Bermain Musik” Karnnamanohara Yogya

Maret 25, 2008 oleh karnnamanohara

Bu Erni Tri Kurniasari guru program khusus di sekolah khusus tunarungu Karnnamanohara yogyakarta. Tubuhnya tidak terlalu besar, rata-rata perempuan Indonesia. Gerakkannya gesit, dan dikesehariannya tercermin sikap berkesenian. Bisa dilihat dari kata-kata yang meluncur dari kepalanya, meluncur bagaikan papan ski di atas salju, dan hampir selalu  disambut tawa dan decak  kekaguman teman-temannya. Pakaiannya juga terbilang nyleneh, tapi memang begitu itulah sedang berkesenian. Datang ke sekolah khusus tunarungu (baca: SLB) Karnnamanohara sebagai guru drum band pada tahun 2003 bersama dua rekan senasib dan seperjuangan dalam korp musik marching band UNY (baca: CDB), dan hanya dia seorang perempuan.

Sepertinya mustahil, waktu itu dia akan melatih drum band bagi anak-anak yang mempunyai gangguan pendengaran (tuli). Bagaimana mungkin mereka dapat memainkan alat musik yang membutuhkan harmonisasi (tempo, irama, nada), sedangkan mereka sendiri tidak pernah mendengar bunyi. Waktu itu memang banyak yang berpendapat mustahil. Tapi hanya beberapa orang yang optimis salah duanya yang memberi tugas dan bu Erni.

Perlu modifikasi dalam menyampakan materi drum band, kalau tidak dimodifikasi hasilnya nihil.  Pertama dari cara mengkomunikasikan bagaimana cara memukul tenor, snare drum, bass drum, marching bell. Anak-anak tidak punya feedback sebagai refleksi control.  Apakah memukulnya terlalu pelan- pelan, cepat atau keras.  Kedua cara memberikan aba-aba. Ini bagian yang penting, karena di sini adanya harmonisasi nada dan tempo.

Setiap jumat satu minggu satu kali dengan waktu latihan 1 jam. Mulailah dari irama gemuruh tak beraturan. Dentuman tanpa makna, atau dentingan bellyra yang gemericik menangisi sang nayaga. Namun lain lagi dengan kejujuran hati anak-anak yang terlukis dari wajah-wajah tak berdosa, berlagak bagai seniman tenar yang kerap mereka tonton di televisi tanpa secuilpun makna bunyi yang mampu dinikmati oleh otaknya. Mana bunyi yang indah terdengar itu ? Mana suara mendesir yang mampu membangkitkan rasa dari relung hati paling dalam. Mana ? Mana itu semua ? Seolah harmoni itu terpenjarakan di angkasa yang jauh dari jangkauan kemampuan manusia. Waktu  itu entah sampai kapan bu Erni harus mengubur harapan, atau bahkan dia telah membakarnya menjadi debu-debu yang berterbangan

Lain hari jumat, bunyi itu mulai memayungi wilayah karnnamanohara. Bunyi mula-mula terdengar bagai tabrakan berbagai alat sumber mulai ada beda. Mulai timbul rasa. Telinga anak-anak mulai plong. Tangan mungil milik mereka berangsur-angsur lentur. Ayunan nada mulai mengiringi gerakan hati. Memang terasa mulai beda.

SISWA SLB B KARNNAMNAOHARA KUNJUNGAN BELAJAR

Maret 10, 2008 oleh karnnamanohara

Di Sekolah khusus tunarungu Karnnamanohara saat ini sedang digalakkan kunjungan belajar. Kunjungan belajar dimaksudkan sebagai ajang konfirmasi teori/ materi yang telah atau sedang dipelajari di kelas. Anak-anak sesuai dengan taraf tugas perkembangannya, ada dalam fase konkret. Oleh karena belajar di dalam kelas dengan sedikit media dan alat yang dapat dipakai anak untuk pembelajaran akan menambah kesulitan bagi anak untuk mencerna materi pelajaran. Kunjungan belajar telah diterapkan bagi seluruh kelas yang ada di Karnnamanohara. Kegiatan kunjungan bersama dilaksanakan pada hari Jumat. Tujuan dari masing-masing kelas dan kelompok berbeda-beda. Tempatnya sangat tergantung dari tema yang banyak muncul pada minggu tersebut. Ada yang membuat lingkaran kecil di sebuah kebun di bawah pohon nangka. Anak-anak berlarian mengumpulkan daun kering yang jatuh. Suasana riang dan hangat terpancar dari semua anak dan juga guru. Ada juga kelompok lain mengeliling kandang kambing, kerbau dan sapi. Mereka cermat memperhatikan anggota tubuh binatang itu.  Mereka sedang mengidentifikasi bersama-sama. Sedangkan kelompok lain jalan lebih jauh ke tempat peternakan dan pemerahan susu kambing Etawa. Tidak kalah menariknya dari kelompok lain. Mereka bahkan lebih asyik menarik-narik puting kambing, berlagak memeras susunya.  Kelas dasar biasanya jauh lebih meriah. Mereka tidak hanya berorientasi di lingkungan dekat sekolah, tetapi juga sudah lingkungan yang jauh dari sekolah. Seperti bank, kantor kelurahan, kecamatan, mall, tempat rekreasi dll.

“Tunarungu Bermain Musik” Karnnamanohara Yogya

Februari 12, 2008 oleh karnnamanohara

Bu Erni Tri Kurniasari guru program khusus di sekolah khusus tunarungu Karnnamanohara yogyakarta. Tubuhnya tidak terlalu besar, rata-rata perempuan Indonesia. Gerakkannya gesit, dan dikesehariannya tercermin sikap berkesenian. Bisa dilihat dari kata-kata yang meluncur dari kepalanya, meluncur bagaikan papan ski di atas salju, dan hampir selalu  disambut tawa dan decak  kekaguman teman-temannya. Pakaiannya juga terbilang nyleneh, tapi memang begitu itulah sedang berkesenian. Datang ke sekolah khusus tunarungu (baca: SLB) Karnnamanohara sebagai guru drum band pada tahun 2003 bersama dua rekan senasib dan seperjuangan dalam korp musik marching band UNY (baca: CDB), dan hanya dia seorang perempuan.

Sepertinya mustahil, waktu itu dia akan melatih drum band bagi anak-anak yang mempunyai gangguan pendengaran (tuli). Bagaimana mungkin mereka dapat memainkan alat musik yang membutuhkan harmonisasi (tempo, irama, nada), sedangkan mereka sendiri tidak pernah mendengar bunyi. Waktu itu memang banyak yang berpendapat mustahil. Tapi hanya beberapa orang yang optimis salah duanya yang memberi tugas dan bu Erni.

Perlu modifikasi dalam menyampakan materi drum band, kalau tidak dimodifikasi hasilnya nihil.  Pertama dari cara mengkomunikasikan bagaimana cara memukul tenor, snare drum, bass drum, marching bell. Anak-anak tidak punya feedback sebagai refleksi control.  Apakah memukulnya terlalu pelan- pelan, cepat atau keras.  Kedua cara memberikan aba-aba. Ini bagian yang penting, karena di sini adanya harmonisasi nada dan tempo.

Setiap jumat satu minggu satu kali dengan waktu latihan 1 jam. Mulailah dari irama gemuruh tak beraturan. Dentuman tanpa makna, atau dentingan bellyra yang gemericik menangisi sang nayaga. Namun lain lagi dengan kejujuran hati anak-anak yang terlukis dari wajah-wajah tak berdosa, berlagak bagai seniman tenar yang kerap mereka tonton di televisi tanpa secuilpun makna bunyi yang mampu dinikmati oleh otaknya. Mana bunyi yang indah terdengar itu ? Mana suara mendesir yang mampu membangkitkan rasa dari relung hati paling dalam. Mana ? Mana itu semua ? Seolah harmoni itu terpenjarakan di angkasa yang jauh dari jangkauan kemampuan manusia. Waktu  itu entah sampai kapan bu Erni harus mengubur harapan, atau bahkan dia telah membakarnya menjadi debu-debu yang berterbangan

Lain hari jumat, bunyi itu mulai memayungi wilayah karnnamanohara. Bunyi mula-mula terdengar bagai tabrakan berbagai alat sumber mulai ada beda. Mulai timbul rasa. Telinga anak-anak mulai plong. Tangan mungil milik mereka berangsur-angsur lentur. Ayunan nada mulai mengiringi gerakan hati. Memang terasa mulai beda.

Lima tahun berjalan. Bu Erni dan anak-anak masih di hari jumat dengan waktu satu jamnya. Mereka sudah dapat membaca partitur. Dan yang membanggakan sekolah dan tentunya para orangtua. Anak-anak mereka sudah mulai sering dipanggil, manggung di berbagai tempat dan acara. Mereka tidak berubah menjadi anak yang mendengar. Mereka tetap permanen dalam ketulian, namun mata dan hati mereka telah mampu mengukir kebanggan keluarga dan guru-guru. Mereka pandai bermain marching band, ensamble. Dan yang paling menyedihkan bu Erni masih seperti lima tahun yang lalu (waktu itu usianya 20 th, sekarang ninggal + 5 lagi….??????????selangkung,ya ?) nunggu ada yang menikahi……..sabar ya…bu guru. Eh………….masih juga wiyata bakti di SLB B Karnnamanohara tercintanya.

Sekolah Tunarungu Karnnamanohara

Januari 19, 2008 oleh karnnamanohara

Mengapa Anak Tunarungu Perlu Sekolah ?

Jawaban yang penting dari pertanyaan di atas adalah “Ya” dan “sangat perlu” juga harus sangat segera. Karena gangguan yang menyebabkan  ketunarunguan akan juga berakibat adanya gangguan terhambatnya perkembangan bahasa secara keseluruhan. (konsep verbal dan non verbal-reseptif maupun ekspresif). Gejala terhambatnya bahasa adalah tidak dapat menyampaikan keinginan sekaligus juga tidak dapat menangkap ide orang lain (berkomunikasi). dan anak mulai berisyarat. Temperamental.

Kapan waktu yang tepat ?

Dari usia dini (1.8th atau sebelum usia 5 tahun) karena pada usia tersebut anak masih belum banyak mempunyai keinginan sehingga masih mudah untuk dibimbing atau diarahkan dalam mengikuti perkembangan bahasa yang pada dasarnya sudah tertinggal dari anak pada usianya.

Bagaimana syarat2 untuk dapat diterima di Karnnamanohara?

Pertama

Membawa surat hasil pemeriksaan dari dokter THT atau rekomendasi perkembangan psikologis sosial dari tumbuh kembang anak.

Kedua

Mengikuti prosedur penerimaan murid di Karnnamanohara seperti; observasi minimal 3 hari maksimal 1 minggu yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak sehingga dapat dikelompokkan sesuai dengan kemampuannya.

Ketiga

Setelah anak diobservasi dan hasilnya baik (sesuai dengan format visi sekolah) maka akan ditindak lanjuti dengan mengisi formulir pendaftaran murid baru sedangkan bagi anak dengan hasil observasi yang tidak sesuai dengan visi seklah akan direkomendasikan ke sekolah yang sesuai dengan kemampuan dan keadaan anak tersebut.

Keempat

Pengisian formulir hanya diberi waktu selama 5 hari.Jika dalam 5 hari formulir tidak segera dikumpulkan, maka dianggap tidak berminat mendaftar di Karnnamanohara, dan kesempatan akan diberikan kepada pendaftar yang lain. Dengan menandatangani formulir pendaftaran maka dianggap menyetujui seluruh ketentuan dan tata tertib yang berlaku di Karnnamanohara.

Bagaimana metode pengajaran di Karnnamanohara ?

Karnnamnohara memberikan pelayanan pendidikan dengan menggunakan Metode Maternal Reflektif yaitu suatu metode pembelajaran berbahasa bagi anak tunarungu.

Apa Keunggulan Menggunakan Metode Maternal Reflektif ?

Pembelajaran berbahasa melalui percakapan, membuat anak terbiasa bercakap sejak kecil,  mereka mempunyai keterampilan berbahasa seperti anak yang mendengar pada umumnya sehingga anak mempunyai kepercayaan diri yang lebih

Jenjang Apa Saja yang Ada di Karnnamanohara ?

Jenjang Pendidikan yang ada di Karnnamanohara antara lain ;

1. Kelas Latihan B (anak usia 1;6 th sampai dengan 3th)

2. Kelas Latihan A (anak usia 3 – 4th)

3. Kelas Taman 1 (anak usia 4-5th)

4.Kelas Taman 2 (anak usia 5-6th)

5. Kelas Taman 3 (anak usia 6th)

6. Kelas Dasar 1 (anak usia 7th)

7. Kelas Dasar 2 (anak usia 8-9th)

8. Kelas Dasar 3 (anak usia 9-10th)

9. Kelas Dasar 4 (anak usia 10-11th)

10.Kelas Dasar 5 (anak usia 11-12th)

11.Kelas Dasar 6 (anak usia 12-13th)

 Alamat : Yayasan Tunarungu Yogyakarta
SLB B Karnnamanohara
Jl. Pandean 2 Gang. Wulung Condong catur, Depok, Sleman
Yogyakarta Telp. 0274 7471326 . HP. 087838228680

Website : karnnamanohara.wordpress.com

Email : karnnamanohara@yahoo.com