Sekolah Khusus Tunarungu Karnnamanohara

Just another WordPress.com weblog

Terima Kasih “RED CROSS JAPAN”

Kebahagian bagi kami telah datang. Batapa tidak negara Jepang yang dahulu hadir sebagai penakluk sekaligus penjajah, saat ini hadir sebagai negara yang pemerhati dan pengamal “HAM” yang baik.

Sekolah Karnnamanohara mulai bulan Juni 2008, diberikan empat buah kamar mandi dan kamar kecil berstandar Internasional.

Bangunan yang memang bukan hanya kokoh, tetapi juga bersih dan berkualitas, tetapi juga dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat normal, begitu juga bagi penyandang cacat.

Kami selaku sekolah swasta yang baru lahir sangat bersyukur dengan keadaan ini, dan tentu saja anak-anak dan guru juga senang.

Tanggal delapan Agustus 2008 adalah awal kami menggunakan fasilitas itu. Kami programkan kepada seluruh murid secara bergantian masuh ke kamar kecil tersebut sambil memsosialisasikan cara penggunaan dan perawatannya.

Merawat memang menjadi penting. Dan yang merawat adalah seluruh warga sekolah.

Terima kasih Palang Merah Jepang. Semoga usahamu menjadi kemuliaanmu. amien.

Tidak ada Komentar »

HASIL PENELITIAN KEMAMPUAN MEMBACA DI SLB B KARNNAMANOHARA

Tanggal 7 September 2008 Yogyakarta Internasional Hospital mengadakan seminar “Deteksi Dini Gangguan Pendengaran dan Penglihatan” Seperti biasa Nara sumber Bpk. Dr. dr. Bambang Udji, Sp. THT. M.Kes. dan Ibu dr. Retno spesialis mata.

Sebenarnya hampir seluruh materi dari bapak Bambang sudah sering didapat dan bahkan telah lama dilaksanakan di Karnnamanohara. Namun ada sesuatu yang baru, yaitu informasi mengenai hasil penelitiannya mengenai “Pengaruh lebih awal bersekolah terhadap kemampuan membaca” 

Penelitiannya sendiri dilaksanakan di SLB B Karnnamanohara mulai kelas 3 sampai kelas 5 dan di SLB B Negeri yang berada di wilayah Bantul. Ternyata setelah direrata hasil kemampuan membaca sampel yang diambil di Karnnamanohara mempunyai kemampuan membaca tiga kali lebih baik dibandingkan dengan kemampuan membaca anak-anak yang diambil sampel di SLB Negeri.

Keberhasilan ini berkat modifikasi sistem(metoda dan strategi) pembelajaran dan integritas para pengajar. Karena kegiatan membaca dan menulis di SLB B Karnnamanohara dilaksanakan sangat efektif dan bertahap. Materi penelitian adalah anak-anak diberikan teks bacaan mulai dari yang sederhana sampai ke tingkat fleksibilitas bahasa yang rumit. Kemudian anak-anak diminta untuk menjawab sendiri dengan bahasanya sendiri tanpa mendapat bimbingan dari guru.  Memang bagi anak-anak tunarungu yang sangat miskin penguasaan kosa kata hal ini sangat sulit, terlebih bila tahapan dalam proses perolehan bahasa hanya dengan sistem droping atau induktif. Alhasil mereka kaya akan kata-kata tetapi mereka tidak dapat memahaminya dan tidak dapat memakainya dalam kegiatan berkomuikasi dengan masyarakat dengar. Indikator yang menonjol dari keadaan ini adalah bahasa mereka sulit dipahami baik secara strutur maupun secara reseptif.

Bagi anak-anak di SLB B Karnnamanohara yang memanfaatkan perkembangan usia bahasa, yaitu mulai usia 2 tahun kegiatan berbahasa dilaksanakan secara empiris. Bahasa yang benar-benar diperlukan dalam kegiatan berkomunikasi. Bukan ilmu bahasanya melainkan keterampilan berbahasa, sehingga kecendrungan anak untuk menggunakan kekayaan kosa kata yang terbalik-balik lambat laun dapat diperbaiki dan pada akhirnya pada kelas-kelas peralihan (kelas 4-5) struktur bahasa mereka sudah baik dan mulai untuk memahami bacaan dari sumber mana pun seperti (koran, majalah, buku-buku pelajaran, surat, lembar pengumuman dan lain-lain).

Yang lebih menarik lagi, bapak Dr. dr. Bambang telah menyebarluaskan hasil penelitian ini kepada seluruh organisasi dokter ahli THT secara nasional dan tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain pun akan dilaksanakan peneltian serupa.

Tidak ada Komentar »

M. Iqbal R.A. Ternyata kamu anak Cerdas

Kamis, 25 Agustus 2008. Ibu Amelia (mama Iqbal) konsultasi tentang Iqbal. Mereka meminta pertimbangan karena keluarganya harus pindah ke Jakarta secara mendadak karena tugas bapaknya memang diperlukan di Jakarta.

Sekolah menyarankan agar Iqbal dibawa serta saja, karena  hidup dengan kelurga yang lengkap jauh akan baik dibanding dititipkan kepada keluarga atau saudara. Ini perteimbangan psikis di masa depan.

Penentuan pilihan sekolah waktu itu ada beberapa pilihan sebagai alternatif dari keluarga. Diantaranya Santi Rama dan PL. Pilihan dari keduanya sama, yang selanjutnya menjadi pertimbangan adalah jarak dari rumah, ekonomi dan juga status sosial. Dengan pertimbangan yang matang keluarga memutuskan untuk di Santi Rama.

27 Agustus 2008 ibu Amelia sudah menelepon, bahwa Iqbal sedang menjalani serangkaian tes, termasuk di dalamnya tes IQ. Kami mendoakan semoga hasilnya baik, karena di Karnnamanohara pun Iqbal temasuk anak yang cerdas, bahkan salah satu murid yang loncat kelas (akselerasi).

Sabtu, 30 Agustus 2008 pukul 20.00 saya mendapatkan dua telepon. Pertama dari ibu Siti Jahara selaku wakil kepala sekolah Santi Rama Jakarta. Beliau mengabarkan bahwa hasil observasi baik dan yang menakjubkan adalah IQ Iqbal berada di 125, artinya Iqbal memiliki kecerdasan superior. Puji syukur alhamdulillah ternyata Iqbal memang cerdas. Telepon yang kedua dari ibu Amelia (mama Iqbal). Dengan nada sedikit gemetar beliau mengabarkan yang isinya hampir sama.

Iqbal memang mempunyai potensi. Semoga mendapatkan layanan yang optimal. Selamat jalan Iqbal…!

Tidak ada Komentar »

Anisa Alkatari dapat Dana Stimulan sebagai Atlit Renang

Dinas Sosial memberikan dana stimulan kepada anak-anak SLB yang memiliki prestasi. Satu diantaranya adalah Anisa.

Anisa tidak menduga akan mendapatkan dana stimulan tersebut, karena tanpa sepengetahuan dirinya atau bapak/ ibunya sekolah telah mengusulkan dirinya ke Dinas Sosial.

Tidak terlalu besar memang, tapi cukuplah untuk mendorong agar Anisa lebih rajin berlatih supaya nanti dapat meraih gelar yang lebih baik dalam perlombaan renang yang akan datang.

Waktu itu (Januari 2005) Anisa ikut dalam perlombaan renang antara TK se-DIY dan mendapatkan perunggu dalam katagori gaya bebas putri 25 meter.

Selamat ya Anisa. Semoga bakatmu lebih terasah.

Tidak ada Komentar »

Model Pembelajaran BKPBI akan dibuat Film.

Kabar bahagia bagi rekan-rekan guru SLB B di DIY.  Seiring meluncurnya pembinaan program BPBI menjadi BKPBI pada tahun 2006, maka dinas pendidikan propinsi DIY melalui UPTD BTKP DIY akan membuat produksi rekaman/ model pembelajaran BKPBI.

Rencana ini atas rekomendasi dari dinas lewat para pengawas SLB dengan harapan sekolah-sekolah luar biasa bagian B (tunarugu) dapat melihat satu model pembelajaran BKPBI dan dapat melaksanakan pembelajaran tersebut di sekolah masing-masing.

Sri Kumorowati, S.Pd. guru dari Karnnamanohara telah terpilih dan ditugasi untuk membuat jabaran materi yang bekerja sama dengan Erni Trikurnia Sari, S.Pd. selaku pembuat GBIPM-nya. Sedangkan penguji materi diambil dari dosen PLB UNY, bpk Hermanto. MPd. dan dari Karnnamanohara sdr. Tantan Rustandi.  Program ini juga dikaji dan diawasi oleh ahli multi media dari MMTC dan LPMP.

Menurut kabar dari sutradara (mas Oki). Pengambilan gambar akan dimulai pertengahan bulan puasa dengn melibatkan siswa dan siswi Karnnamanohara dan akan diambil di lingkungan sekolah karnnamanohara.

Kami selaku pengelola SLB B Karnnamanohara sangat terbebani dengan tugas yang besar ini, karena di Yogyakarta ini kami hanya satu dari 64 SLB yang ada dan tentunya belum punya prestasi. Namun kami terpilih sebagai model karena di karnnamanohara program tersebut telah dilaksanakan sejak tahun 2001.

2 Komentar »

Diklat BKPBI dalam Peningkatan Kompetensi Guru SLB B Se-DIY

Dinas Pendidikan Propinsi DIY pada tanggal 20 sd. 23 Agustus 2008 mengadakan Diklat guna peningkatan Kompetensi guru SLB B se-DIY. Program ini diikuti oleh 140 peserta di hotl Joyo, Kaliurang.

Ternyata program khusus  Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama dianggap oleh sebagian besar peserta hal yang baru, padahal program ini mulai dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 1984 dengan nama Bina Persepsi Bunyi dan Irama.

Program ini sebenarnya program yang penting diajarkan di seluruh SLB B, atau SLB yang melayani pendidikan bagi penyandang tunarungu.  Karena salah tujuannya adalah untuk mempersiapkan anak-anak tunarungu untuk hidup di dalam masyarakat yang mendengar.

Namanya sudah Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama, sudah barang tentu conten dalam materi ini adalah pembelajaraan dalam membina anak-anak tunarungu dalam berkomunikasi dan mempersepsi bunyi-bunyi, baik yang berupa bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat, latar belakang sampai puncaknya persepsi terhadap bunyi bahasa.

SLB B Karnnamanohara terlibat dalam kegiatan ini baik sebagai peserta (ada 3 orang guru, bu Wita, Bu Fitri dan bu Ambar) dan juga sebagai instruktur (pak Tantan, bu Erni), tadinya ingin sekali dalam kegiatan ini ada model pembelajaran dengan membawa anak-anak ke tempat pelatihan, namun karena keterbatasan dana akhirnya model pembelajaran hanya dimodelkan oleh anggota kelompok.

Guru-guru memang dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang dapat diterapkan di sekolahnya masing-masing. Sesuai materi dalam diklat tersebut maka guru-guru dibentuk dalam kelompok yang masing-masing harus membuat assesmen umum untuk pedoman penerimaan murid baru serta assesmen khusus mata pelajaran untuk menentukan kemampuan awal siswa. Tidak berhenti di situ, kelompok juga diwajibkan untuk membuat silabus dan rencana program pembelajaran.

Pada hari Sabtu tepat pukul 15.00 diklat ditutup oleh Drs. H. Anwar Murhan selaku kepala Seksi Kurikulum bidang PLB dan Dikdas. Dan tanggapan hampir seluruh peserta merespon positif dengan diterimanya ilmu baru yang sebenarnya sudah lama.

Semoga rekan-rekan guru dapat melaksanakan pembelajaran BKPBI di sekolah masing-masing.  Selamat berjuang…!

1 Komentar »

TOUR MERDEKA SISWA SLB KARNNAMANOHARA

Belajar bagi anak semua aktivitas adalah belajar.  Naik trans Jogja juga belajar. Membeli karcis juga belajar. Masuk halte bus juga belajar.

Pagi itu kira-kira pukul 09.00 siswa manohara sebanyak 87 orang berbaris menyebrangi jalan ringroud utara. Ada pak polisi 2 orang yang membantu.

Wajah anak-anak yang terang bahagia tertib menyebrang, lalu menyusuri tepi jalan saling bergandengan tangan menuju ke terminal condongcatur.

Mereka akan membeli karcis trans jogja. Merka akan mencoba naik bus tanpa bapak dan ibu. Mereka akan berpisah dengan teman-temannya, karena berbeda jurusan.

Ada orang awam melirik dan bertanya ,” Sekolah Karnnamanohara lain ya Pak dengan SLB-SLB lain.” Saya penasaran dan balik bertanya pada orang itu,” apanya yang lain, Mas ?”   “Di sini guru-gurunya mau repot-repot bawa anak-anak jalan-jalan segala, sementara saya melihat di SLB lain tak ada guru yang mau repot.”  Saya tak menjawab, hanya menghela nafas dan memanjatkan doa, semoga kami  masih diberikan hati nurani untuk mencintai anak-anak.

Kira-kira pukul 11.30 – 12.00 satu persatu rombongan datang. Dengan muka kelelahan mereka masih semangat ingin menceritakan perjalannya.

Mereka sudah belajar, mereka akan memiliki kekayaan ini. Semoga.

Tidak ada Komentar »

Hastu dari SLB B Karnnamanohara yang direkomendasi ikut inklusi

Hastu Wijayastri kelas 5 di SLB B Karnnamanohara. Tahun ini (2008) oleh sekolah direkomendasikan ikut dalam program inklusi di SDN I Gejayan.

Kalau dibilang siap sih masih rada jauh, karena untuk anak tunarungu masih sangat riskan dalam kekayaan bahasanya. Untuk Hastu dalam perkembangan membaca pemahaman sudah baik, namun belum sampai tahap purna bahasa. Apa sih maksudnya purna bahasa ? ya… tahap penguasaan bahasa yang sangat mandiri. Karena bahasa kan penuh makna dan sangat fleksibel serta elastik dalam penerapannya. Untuk sampai di tahap itu memerlukan proses deduktif, bukan induktif yang cenderung droping.

Untuk memberikan dukungan kepada Hastu, sekolah masih mengharuskan Hastu sepulang dari sekolah masuk ke karnnamanohara untuk memberikan tambahan, termasuk belajar bahasa inggris, jawa dan bahasa Indonesia.

Ada sih anak-anak lain dengan inisiatif orangtuanya masuk ke program inklusi (roza, lintang, dewi, nana), meskipun anak-anak itu baru bisa membuka mata. Tapi tak apalah resiko kan bukan tanggung jawab sopir, He…he… Kalo boleh saya mengistilahkan… Mata orang yang berpuasa sangat lapar dibanding dengan mulutnya. Tahu kan ?

1 Komentar »

Pengelolaan sekolah Inklusi di Yogyakarta Meragukan

Rabu 27 Agustus 2008 diadakan sosialisasi bantuan opeasional sekolah bagi SLB swasta, Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi (SPPI) dan para guru pembimbing khusus (GPK).

Acara diawali dengan sambutan pembukaan dari bapak Drs. H. Buchori selaku kepala seksi Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan DIY selaku bapak pembina dari SLB dan SPPI di Yogyakarta.  Kata yang menarik dari beliau adalah berterima kasihnya kepada para penyelenggara pendidikan inklusi yang telah berpartisipasi menerima anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah mereka. Saat ini ada 120 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi dan baru 71 satu yang telah terdaftar. Diantara yang yang terdaftar pun pelayanannya dapat dikatakan kurang. Sehingga diperlukan satu sistem pembinaan.

Usai pak Buchori dilanjutkan dengan sosialisasi “bos” diantaranya ada tanya jawab antara peserta. Ada beberapa penanya yang rata-rata dari SD penyelenggara Pendidikan Inklusi. Pertanyaan dari mereka ada yang sangat menarik, yaitu dari SD Negeri di Jambidan, Bantul. Tahun ini mereka rada kewalahan dengan adanya beberapa murid berkebutuhan khusus masuk ke sekolah tersebut. Yang menyebabkan kewalahan adalah guru pembimbing khususnya, karena selain hanya satu orang untuk melayani 30 anak yang mempunyai kecacatan tunagrahita dan tunarungu wicara, juga dengan keterbatasan waktu kunjungan yang hanya 2 hari dalam satu minggu.

Hati saya selaku orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan khusus sangat khawatir dengan keadaan demikian, terlebih saat ini memang para orang tua yang memiliki anak cacat ingin anak-anaknya masuk di sekolah inklusi yang menurut mereka keadaan sekolah inklusi jauh dapat memberikan bekal yang lebih baik ketimbang di SLB.

Latarbelakangnya orang tua beragam memang. Ada yang karena ingin menghapus label ke-SLB-annya, dan ada juga yang memandang inklusi lebih memberikan harapan. Tapi….. bagaimana dengan keadaan di dalam ???

6 Komentar »

Memaksimalkan potensi anak tunarungu dengan memilih Sekolah Tunarungu/ SLB-B

Saat ini bagi orang tua yang memiliki anak tunarungu dapat memilih sekolah lebih leluasa. Lain dengan masa sebelum tahun 2007 atau sebelum pemerintah meluncurkan program inklusi bagi penyandang cacat (tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, autis dan lain sebagainya).  Sekolah-sekolah bukan SLB atau sekolah reguler seperti SD, SMP dan SMA umum dengan label inklusi diperkenankan menerima anak-anak penyandang cacact tersebut. Dasarnya apa lagi kalau bukan atas nama “HAM”. Kesempatan ini juga disambut oleh beberapa sekolah umum yang kurang populer atau kurang diminati untuk membuka kelas inklusi, atau tidak sedikit juga yang dilatarbelakangi dengan sekedar mencari keuntungan materi semata. Karena dari segi pengetahuan dan pengelolaan sekolah yang berlabelkan inklusi bagi penyandang tunarungu khususnya dalam kegiatan pembelajaran pada kenyataannya sangat kurang siap.

Bagi segelintir orang tua yang dahulu merasa pilu dan malu menyekolahkan anaknya di SLB, program ini merupakan obat pelipur hati, setidaknya anak mereka yang seharusnya dilabelkan SLB saat ini sudah berada di sekolah umum yang berbaur dengan anak-anak non kecacatan. Rasa senang tentunya datang, beban di kepala mulai ringan ”bagi orang tua tentunya” karena yang mengerti “HAM” dan cenderung punya perasaan itu hanya para orang tua. Bagaimana dengan proses belajar anak-anak mereka di dalam kelas ? Inilah masalah inti yang kurang tercermati, dan bahkan atas nama “HAM” dan mengubur rasa malu itulah anak-anak mereka dibakar dalam proses yang bukan miliknya dan dunianya. Betulkah ?

Bagi anak tunarungu kebanyakan berpotensi memiliki kecerdasan rata-rata, hanya karena akibat ketunarunguan itu sehingga potensi itu menjadi terhambat. Kita semua setuju kecerdasan itu tidak berkembang sendiri, walaupun kita juga tidak tahu secara persis kerja otak kita dalam menyerap, menyimpan dan memakainya saat diperlukan. Tapi kita tahu perkembangan otak itu perlu rangsangan, atau perlu stimulus, dan cara memakai kecerdasan itu juga perlu media.

Pada manusia stimulus itu lewat telinga, mata dan rasa. Stimulus yang melalui telinga akan dimaknai oleh otak sebesar 65 %, sedangkan stimulus mata dan rasa dimaknai hanya 35 %. Sekarang bagaimana dengan anak tunarungu ? Sudah barang tentu start (awalan) mereka sudah memiliki hambatan dalam menerima stimulus yang bakal diolah menjadi kecerdasannya itu berkurang sebesar 65% dan mereka itu hanya dengan 35% saja menyerap dan mengolah informasi (itu pun jika “mata dan konsentrasi” anak cukup baik). Jika tidak, mungkin kurang dari itu semua.  Tidak cukup sampai di situ. Informasi yang diterima mata juga bentuknya macam-macam. Bisa berbentuk lambang tulisan, gambar, atau warna. Namun semuanya sama yaitu memerlukan pemaknaan. Karena segala sesuatu perlu proses pemaknaan itulah yang tidak akan didapat di sekolah selain di SLB khusus tunarungu. Cukup mengkhawatirkan bukan ?. Bagaima mungkin start (awalan) anak tunarungu yang berbeda dengan anak-anaknormal  (yang tidak kekurangan) tiba-tiba mereka harus berada dalam satu wadah pacuan (kelas, sarana, media) yang sama tanpa beda? Betapa tersiksanya mereka, anak-anak tercinta yang semestinya dimuliakan karena mereka memang tidak harus sama layanannya dengan anak-anak lainnya. Mereka dipaksa “kan” untuk satu biduk mengarungi lautan ilmu dengan terpincang-pincang, dengan kebengongan  yang tiada tara, dan dengan perasaan tertekan yang tak mampu mereka utarakan karena mereka miskin bahasa… 

Mengapa orang tua cenderung memilih sekolah inklusi ?  jawabannya hanya satu. Mereka tidak mau menerima realita yang ada. Mereka cenderung meilhat keinginan yang besar tanpa harus bersusah payah memproses anaknya menjadi anak-anaknya secara utuh. Pikiran mereka tidak berubah dari keinginan menjadi kenyataan. Pikiran mereka bila berada di SLB adalah jalur lambat, mereka segera ingin berpindah ke jalur cepat. Mereka seolah-olah memiliki tujuan bagi anak-anaknya, padahal sebenarnya telah mengacaukan hidup fisik dan psikis anak-anaknya dengan pikiran mereka yang sangat tidak realistik. Mengapa ????????????????????????

Bila bapa/ ibu tidak puas dengan tulisan ini, silakan komentar atau menghubungi langsung ke:

www.karnnamanohara@yahoo.com, tlp. 0274-7471326/ Hp. 087838228680 dengan Cp. Tantan Rustandi.

1 Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.