“Tunarungu Bermain Musik” Karnnamanohara Yogya

Bu Erni Tri Kurniasari guru program khusus di sekolah khusus tunarungu Karnnamanohara yogyakarta. Tubuhnya tidak terlalu besar, rata-rata perempuan Indonesia. Gerakkannya gesit, dan dikesehariannya tercermin sikap berkesenian. Bisa dilihat dari kata-kata yang meluncur dari kepalanya, meluncur bagaikan papan ski di atas salju, dan hampir selalu  disambut tawa dan decak  kekaguman teman-temannya. Pakaiannya juga terbilang nyleneh, tapi memang begitu itulah sedang berkesenian. Datang ke sekolah khusus tunarungu (baca: SLB) Karnnamanohara sebagai guru drum band pada tahun 2003 bersama dua rekan senasib dan seperjuangan dalam korp musik marching band UNY (baca: CDB), dan hanya dia seorang perempuan.

Sepertinya mustahil, waktu itu dia akan melatih drum band bagi anak-anak yang mempunyai gangguan pendengaran (tuli). Bagaimana mungkin mereka dapat memainkan alat musik yang membutuhkan harmonisasi (tempo, irama, nada), sedangkan mereka sendiri tidak pernah mendengar bunyi. Waktu itu memang banyak yang berpendapat mustahil. Tapi hanya beberapa orang yang optimis salah duanya yang memberi tugas dan bu Erni.

Perlu modifikasi dalam menyampakan materi drum band, kalau tidak dimodifikasi hasilnya nihil.  Pertama dari cara mengkomunikasikan bagaimana cara memukul tenor, snare drum, bass drum, marching bell. Anak-anak tidak punya feedback sebagai refleksi control.  Apakah memukulnya terlalu pelan- pelan, cepat atau keras.  Kedua cara memberikan aba-aba. Ini bagian yang penting, karena di sini adanya harmonisasi nada dan tempo.

Setiap jumat satu minggu satu kali dengan waktu latihan 1 jam. Mulailah dari irama gemuruh tak beraturan. Dentuman tanpa makna, atau dentingan bellyra yang gemericik menangisi sang nayaga. Namun lain lagi dengan kejujuran hati anak-anak yang terlukis dari wajah-wajah tak berdosa, berlagak bagai seniman tenar yang kerap mereka tonton di televisi tanpa secuilpun makna bunyi yang mampu dinikmati oleh otaknya. Mana bunyi yang indah terdengar itu ? Mana suara mendesir yang mampu membangkitkan rasa dari relung hati paling dalam. Mana ? Mana itu semua ? Seolah harmoni itu terpenjarakan di angkasa yang jauh dari jangkauan kemampuan manusia. Waktu  itu entah sampai kapan bu Erni harus mengubur harapan, atau bahkan dia telah membakarnya menjadi debu-debu yang berterbangan

Lain hari jumat, bunyi itu mulai memayungi wilayah karnnamanohara. Bunyi mula-mula terdengar bagai tabrakan berbagai alat sumber mulai ada beda. Mulai timbul rasa. Telinga anak-anak mulai plong. Tangan mungil milik mereka berangsur-angsur lentur. Ayunan nada mulai mengiringi gerakan hati. Memang terasa mulai beda.

Lima tahun berjalan. Bu Erni dan anak-anak masih di hari jumat dengan waktu satu jamnya. Mereka sudah dapat membaca partitur. Dan yang membanggakan sekolah dan tentunya para orangtua. Anak-anak mereka sudah mulai sering dipanggil, manggung di berbagai tempat dan acara. Mereka tidak berubah menjadi anak yang mendengar. Mereka tetap permanen dalam ketulian, namun mata dan hati mereka telah mampu mengukir kebanggan keluarga dan guru-guru. Mereka pandai bermain marching band, ensamble. Dan yang paling menyedihkan bu Erni masih seperti lima tahun yang lalu (waktu itu usianya 20 th, sekarang ninggal + 5 lagi….??????????selangkung,ya ?) nunggu ada yang menikahi……..sabar ya…bu guru. Eh………….masih juga wiyata bakti di SLB B Karnnamanohara tercintanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s