Memaksimalkan potensi anak tunarungu dengan memilih Sekolah Tunarungu/ SLB-B

Saat ini bagi orang tua yang memiliki anak tunarungu dapat memilih sekolah lebih leluasa. Lain dengan masa sebelum tahun 2007 atau sebelum pemerintah meluncurkan program inklusi bagi penyandang cacat (tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, autis dan lain sebagainya).  Sekolah-sekolah bukan SLB atau sekolah reguler seperti SD, SMP dan SMA umum dengan label inklusi diperkenankan menerima anak-anak penyandang cacact tersebut. Dasarnya apa lagi kalau bukan atas nama “HAM”. Kesempatan ini juga disambut oleh beberapa sekolah umum yang kurang populer atau kurang diminati untuk membuka kelas inklusi, atau tidak sedikit juga yang dilatarbelakangi dengan sekedar mencari keuntungan materi semata. Karena dari segi pengetahuan dan pengelolaan sekolah yang berlabelkan inklusi bagi penyandang tunarungu khususnya dalam kegiatan pembelajaran pada kenyataannya sangat kurang siap.

Bagi segelintir orang tua yang dahulu merasa pilu dan malu menyekolahkan anaknya di SLB, program ini merupakan obat pelipur hati, setidaknya anak mereka yang seharusnya dilabelkan SLB saat ini sudah berada di sekolah umum yang berbaur dengan anak-anak non kecacatan. Rasa senang tentunya datang, beban di kepala mulai ringan “bagi orang tua tentunya” karena yang mengerti “HAM” dan cenderung punya perasaan itu hanya para orang tua. Bagaimana dengan proses belajar anak-anak mereka di dalam kelas ? Inilah masalah inti yang kurang tercermati, dan bahkan atas nama “HAM” dan mengubur rasa malu itulah anak-anak mereka dibakar dalam proses yang bukan miliknya dan dunianya. Betulkah ?

Bagi anak tunarungu kebanyakan berpotensi memiliki kecerdasan rata-rata, hanya karena akibat ketunarunguan itu sehingga potensi itu menjadi terhambat. Kita semua setuju kecerdasan itu tidak berkembang sendiri, walaupun kita juga tidak tahu secara persis kerja otak kita dalam menyerap, menyimpan dan memakainya saat diperlukan. Tapi kita tahu perkembangan otak itu perlu rangsangan, atau perlu stimulus, dan cara memakai kecerdasan itu juga perlu media.

Pada manusia stimulus itu lewat telinga, mata dan rasa. Stimulus yang melalui telinga akan dimaknai oleh otak sebesar 65 %, sedangkan stimulus mata dan rasa dimaknai hanya 35 %. Sekarang bagaimana dengan anak tunarungu ? Sudah barang tentu start (awalan) mereka sudah memiliki hambatan dalam menerima stimulus yang bakal diolah menjadi kecerdasannya itu berkurang sebesar 65% dan mereka itu hanya dengan 35% saja menyerap dan mengolah informasi (itu pun jika “mata dan konsentrasi” anak cukup baik). Jika tidak, mungkin kurang dari itu semua.  Tidak cukup sampai di situ. Informasi yang diterima mata juga bentuknya macam-macam. Bisa berbentuk lambang tulisan, gambar, atau warna. Namun semuanya sama yaitu memerlukan pemaknaan. Karena segala sesuatu perlu proses pemaknaan itulah yang tidak akan didapat di sekolah selain di SLB khusus tunarungu. Cukup mengkhawatirkan bukan ?. Bagaima mungkin start (awalan) anak tunarungu yang berbeda dengan anak-anaknormal  (yang tidak kekurangan) tiba-tiba mereka harus berada dalam satu wadah pacuan (kelas, sarana, media) yang sama tanpa beda? Betapa tersiksanya mereka, anak-anak tercinta yang semestinya dimuliakan karena mereka memang tidak harus sama layanannya dengan anak-anak lainnya. Mereka dipaksa “kan” untuk satu biduk mengarungi lautan ilmu dengan terpincang-pincang, dengan kebengongan  yang tiada tara, dan dengan perasaan tertekan yang tak mampu mereka utarakan karena mereka miskin bahasa… 

Mengapa orang tua cenderung memilih sekolah inklusi ?  jawabannya hanya satu. Mereka tidak mau menerima realita yang ada. Mereka cenderung meilhat keinginan yang besar tanpa harus bersusah payah memproses anaknya menjadi anak-anaknya secara utuh. Pikiran mereka tidak berubah dari keinginan menjadi kenyataan. Pikiran mereka bila berada di SLB adalah jalur lambat, mereka segera ingin berpindah ke jalur cepat. Mereka seolah-olah memiliki tujuan bagi anak-anaknya, padahal sebenarnya telah mengacaukan hidup fisik dan psikis anak-anaknya dengan pikiran mereka yang sangat tidak realistik. Mengapa ????????????????????????

Bila bapa/ ibu tidak puas dengan tulisan ini, silakan komentar atau menghubungi langsung ke:

www.karnnamanohara@yahoo.com, tlp. 0274-7471326/ Hp. 087838228680 dengan Cp. Tantan Rustandi.

One comment on “Memaksimalkan potensi anak tunarungu dengan memilih Sekolah Tunarungu/ SLB-B

  1. Terima kasih atas tanggapannnya, dan tidak ada salahnya saling berpendapat yang berbeda. Bapak-bapak sebagai penikmat lembaga pendidikan, begitu juga saya (karena saya juga punya anak yang juga sekolah). Hanya bedanya saya ada tambahan sedikit selain penikmat yaitu juga sebagai pendidik.

    Bila Bapak-Bapak saat ini dan mungkin sampai selanjutnya merasa puas dan juga hasil anaknya baik, tidak ada salahnya. “maju terus”

    Hanya saya menulis kan dari segi pandangan saya, rasanya wajib menulis dan pembaca mungkin tidak untuk Bapak-Bapak Juga (bisa masyarakat, akademisi atau dinas pendidikan yang juga harus mengoreksi diri.

    Satu lagi yang ingin saya sampaikan, tulisan itu tidak untuk bapak-bapak. Rasanya saya selalu menulis perkembangan yang dialami dalam dunia pendidikan khusus yang saya alami.

    Terima kasih. Semoga sukses…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s