Hastu dari SLB B Karnnamanohara yang direkomendasi ikut inklusi

Hastu Wijayastri kelas 5 di SLB B Karnnamanohara. Tahun ini (2008) oleh sekolah direkomendasikan ikut dalam program inklusi di SDN I Gejayan.

Kalau dibilang siap sih masih rada jauh, karena untuk anak tunarungu masih sangat riskan dalam kekayaan bahasanya. Untuk Hastu dalam perkembangan membaca pemahaman sudah baik, namun belum sampai tahap purna bahasa. Apa sih maksudnya purna bahasa ? ya… tahap penguasaan bahasa yang sangat mandiri. Karena bahasa kan penuh makna dan sangat fleksibel serta elastik dalam penerapannya. Untuk sampai di tahap itu memerlukan proses deduktif, bukan induktif yang cenderung droping.

Untuk memberikan dukungan kepada Hastu, sekolah masih mengharuskan Hastu sepulang dari sekolah masuk ke karnnamanohara untuk memberikan tambahan, termasuk belajar bahasa inggris, jawa dan bahasa Indonesia.

Ada sih anak-anak lain dengan inisiatif orangtuanya masuk ke program inklusi (roza, lintang, dewi, nana), meskipun anak-anak itu baru bisa membuka mata. Tapi tak apalah resiko kan bukan tanggung jawab sopir, He…he… Kalo boleh saya mengistilahkan… Mata orang yang berpuasa sangat lapar dibanding dengan mulutnya. Tahu kan ?

One comment on “Hastu dari SLB B Karnnamanohara yang direkomendasi ikut inklusi

  1. Komentarnya seru juga.

    Komitmen kami memang agar anak “siap” dulu. Maksudnya kalo anak sudah siap kan orang tua tidak lagi repot mendampingi anak. Kesiapan anak menurut pendapat kami, bila anak itu sudah sampai di taraf perkembangan bahasa minimal transisi, lebih siap lagi berada di puncak bahasa (purna bahasa).

    Mengapa kami memfokuskan dalam perkembangan bahasa, karena bahasa adalah kunci atau poros dari segala ilmu. Padahal seperti diketahui anak-anak tunarungu mempunyai kemiskinan dalam berbahasa. Bila tidak percaya, monggo Bapak dan Ibu akan mendapatkan kesenjangan perkembangan bahasa bagi anak-anak itu. Tetapi kami juga membekali dengan program yang lain, seperti yang tercantum dalam strukur kurikulum, dalam standar isi dan proses yang mengaju pada paling akhir standar kelulusan.

    Kenapa baru satu, ya memang baru itu yang menurut kami siap. Dalam kata “siap pun” kami masih perlu memberikan tabahan-tambahan dalam mengejar ketertinggalan pemahaman anak di dalam kelas umum.

    Memang sih orang tua punya harapan, kalo tidak buat apa disekolahkan dan tentunya mahal. Jadi wajib hukumnya untuk terlibat. Cuman bila ukurannya sekolah harus memuaskan orang perorang ya gak bisa, jalan yang terbaik memang mencari yang sementara terbaik.

    Inisiatif orang tua syah saja untuk ikut integrasi maupun inklusi. Apalagi saat ini memang terbuka, atau bahkan pindah ke sekolah khusus yang sama di tempat lain. Karena anak-anak itu memang dititipkan kepada keluarga dari Sang Pencipta untuk mulia dan dimulyakan.

    Kembali ke soal Hastu. Keinginan kami sebagai pengelola sekolah semua anak itu pintar, sehingga bisa memuaskan anaknya dan gurunya, mungki n juga orang tuanya. Apalagi dapat integrasi (kalo impiannnya integrasi) atau dapat hidup merdeka, sejahtera (kalo impiannya ke sana). Tapi saat ini memang baru Hastu. Entah tahun depan karena ada anak-anak yang ekselarasi juga ada.

    Sekali lagi kepada para pemerhati yang saya lacak satu keluarga besar juga, dan ada juga teman kantor atau siapanya siapa. Itulah maksudnya, dan silakan kita cermati bersama-sama sesuai dengan kemantapan masing-masing, sampai di mana perkembangannya. Hasil pendidikan itu akan terasa setelah berjalan minimal 1 tahun. Dan setelah itu baru dapat berkirim kabar lagi dengan cara membandingkan dengan usia perkembangan yang sama.

    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s